Menolak Curiga, Menyambut Luka?

 
(pexels/Kaboompics.com)

KLIK INFO - Dalam hubungan percintaan, terutama di kalangan anak muda, berpikir positif terhadap pasangan sering dianggap sebagai ciri kedewasaan. Banyak yang berpegang pada prinsip “jangan berprasangka buruk” dan percaya bahwa kepercayaan adalah kunci langgengnya hubungan. Ketika pasangan bersikap dingin, lupa memberi kabar, atau membuat alasan yang berulang, reaksi yang muncul bukan kecurigaan, melainkan pembenaran.

“Aku yakin dia cuma sibuk.”

“Dia memang begitu orangnya, tapi hatinya baik.”

“Mungkin akunya yang terlalu sensitif.” 

Kalimat-kalimat ini bukan hanya ungkapan simpati, melainkan cara mempertahankan pandangan positif, meski di baliknya tersimpan keraguan dan luka yang ditolak untuk diakui. Banyak yang berpikir mereka sedang menjaga hubungan, padahal yang mereka jaga sebenarnya adalah ilusi kenyamanan.

Memilih Bertahan, Meski Tahu Disakiti
Berdasarkan hasil survei Jakpat (2023), 64,3% responden di Indonesia menyatakan pernah berada dalam hubungan yang tidak sehat (toksik). Namun menariknya, 44,3% dari mereka memilih tetap bertahan. Artinya, hampir separuh dari mereka yang menyadari hubungan tersebut menyakitkan, tetap tidak meninggalkannya. Salah satu alasan yang muncul adalah karena mereka ingin percaya bahwa semua akan berubah, dan pasangannya tidak benar-benar bermaksud menyakiti. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa berpikir positif sering dijadikan tameng psikologis. Bukan karena tidak tahu bahwa ada yang salah, tetapi karena tidak ingin kenyataan itu menjadi benar. Dalam psikologi, mekanisme ini dikenal sebagai denial.

Dalam konteks hubungan romantis, denial atau penyangkalan adalah mekanisme psikologis di mana seseorang menolak mengakui kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan atau keyakinannya. Meskipun berpikir positif sering dianggap sebagai sikap dewasa, dalam beberapa kasus, hal ini justru menjadi bentuk penyangkalan terhadap realitas yang menyakitkan.

Berusaha Positif, Namun Malah Tersiksa
Penelitian dari UGM (2022) menyebutkan bahwa hubungan yang tidak sehat dapat memengaruhi kondisi mental remaja, seperti menyebabkan stres kronis, gangguan konsentrasi, bahkan depresi ringan hingga sedang. Namun, karena banyak yang merasa “harus kuat” dan “tetap positif,” mereka justru tidak menyadari bahwa tekanan batin itu berasal dari hubungan yang mereka pertahankan sendiri.

Hal ini diperkuat oleh data dari Kementerian Kesehatan RI, yang menunjukkan bahwa 9,8% penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional seperti kecemasan dan. Sementara itu, menurut CNN Indonesia (2022), sebanyak 2,45 juta remaja Indonesia terdiagnosis mengalami gangguan jiwa dalam 12 bulan terakhir. 

Data lain dari UGM juga menyoroti bahwa hubungan romantis yang bersifat toksik sering kali disalahartikan sebagai “uji kesabaran” atau “cinta sejati”, padahal sebenarnya dapat menghancurkan kepercayaan diri dan mengikis kesehatan mental secara perlahan.

Sayangnya, banyak orang yang tetap bertahan dalam kondisi ini karena merasa “harus kuat” dan berpikir bahwa menjaga hubungan adalah bentuk kedewasaan, padahal yang terjadi adalah bentuk penghindaran emosional. Ketika seseorang berkata, “Aku yakin dia tetap sayang,” itu bukan kekuatan, melainkan ketakutan: takut kehilangan, takut ditolak, atau takut harus membuat keputusan yang menyakitkan.

Apakah Kamu Sedang Menipu Diri Sendiri?
Berikut beberapa sinyal yang menunjukkan bahwa kamu sedang memaksa berpikir positif meski tahu ada yang salah:

  • Kamu sering membela pasangan di depan orang lain meski dalam hati tidak setuju.
  • Kamu mengabaikan perasaan sendiri demi menjaga suasana tetap “adem.”
  • Kamu merasa tidak bahagia, tapi takut menyuarakannya karena khawatir akan menimbulkan pertengkaran di dalam hubungan.
  • Kamu merasa bersalah hanya karena merasa curiga.
  • Kamu sering mencari-cari alasan untuk membela pasangan, padahal alasannya tidak masuk akal.

Cara Bijak Membedakan Harapan dan Kenyataan
Agar kamu tidak terus-terusan berpikir positif sampai lupa kenyataan, coba lakukan hal-hal ini:

1. Lihat Sikap Pasangan Secara Jujur
Pasangan kamu benar-benar berusaha memperbaiki hubungan, atau kamu yang terus cari-cari alasan untuk membenarkan sikapnya?

2. Pisahkan Harapan dari Fakta Nyata
Wajar kalau kamu punya harapan, tapi jangan sampai harapan itu menutupi apa yang sebenarnya sedang terjadi.

3. Jangan Takut Mengakui Perasaan Sendiri
Merasa sedih, curiga, atau kecewa itu wajar. Itu tandanya kamu peduli—bukan berarti kamu terlalu sensitif.

4. Berani Berbicara, Jangan Cuma Memaklumi
Hubungan sehat itu butuh komunikasi dua arah. Jangan cuma dengar dia, tapi ungkap juga apa yang kamu rasakan.

5. Tanya ke Diri Sendiri dengan Jujur
“Aku percaya karena yakin sama dia, atau karena takut kehilangan dia?”

6. Hubungan Ini Bikin Kamu Tumbuh atau Tertekan?
Apakah kamu merasa makin berkembang, atau justru makin tertekan dan kehilangan diri sendiri?

Akhirnya, Cinta Tak Harus Membutakan
Berpikir positif adalah kekuatan, tapi jika tidak disertai kesadaran, ia bisa menjadi penjara. Banyak orang terluka bukan karena pasangannya jahat, melainkan karena dirinya sendiri menolak curiga terlalu lama.

Cinta memang butuh kepercayaan, tapi bukan berarti kita harus mengabaikan kenyataan. Jangan sampai “berpikir positif” justru membuat kita menyambut luka dengan senyuman palsu. Karena menjaga hubungan bukan berarti mengorbankan logika dan perasaan. Dan mencintai bukan alasan untuk menolak kenyataan.


Tulisan ini telah diterbitkan di media Terkini News pada tanggal 4 Juni 2025.

Link: Menolak Curiga, Menyambut Luka?

Comments

Post a Comment