![]() |
| (pexels/Kaboompics.com) |
KLIK INFO - Dalam hubungan percintaan, terutama di kalangan anak muda, berpikir positif terhadap pasangan sering dianggap sebagai ciri kedewasaan. Banyak yang berpegang pada prinsip “jangan berprasangka buruk” dan percaya bahwa kepercayaan adalah kunci langgengnya hubungan. Ketika pasangan bersikap dingin, lupa memberi kabar, atau membuat alasan yang berulang, reaksi yang muncul bukan kecurigaan, melainkan pembenaran.
“Aku yakin dia cuma sibuk.”
“Dia memang begitu orangnya, tapi hatinya baik.”
“Mungkin akunya yang terlalu sensitif.”
Kalimat-kalimat ini bukan hanya ungkapan simpati, melainkan cara mempertahankan pandangan positif, meski di baliknya tersimpan keraguan dan luka yang ditolak untuk diakui. Banyak yang berpikir mereka sedang menjaga hubungan, padahal yang mereka jaga sebenarnya adalah ilusi kenyamanan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa berpikir positif sering dijadikan tameng psikologis. Bukan karena tidak tahu bahwa ada yang salah, tetapi karena tidak ingin kenyataan itu menjadi benar. Dalam psikologi, mekanisme ini dikenal sebagai denial.
Dalam konteks hubungan romantis, denial atau penyangkalan adalah mekanisme psikologis di mana seseorang menolak mengakui kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan atau keyakinannya. Meskipun berpikir positif sering dianggap sebagai sikap dewasa, dalam beberapa kasus, hal ini justru menjadi bentuk penyangkalan terhadap realitas yang menyakitkan.
Hal ini diperkuat oleh data dari Kementerian Kesehatan RI, yang menunjukkan bahwa 9,8% penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional seperti kecemasan dan. Sementara itu, menurut CNN Indonesia (2022), sebanyak 2,45 juta remaja Indonesia terdiagnosis mengalami gangguan jiwa dalam 12 bulan terakhir.
Data lain dari UGM juga menyoroti bahwa hubungan romantis yang bersifat toksik sering kali disalahartikan sebagai “uji kesabaran” atau “cinta sejati”, padahal sebenarnya dapat menghancurkan kepercayaan diri dan mengikis kesehatan mental secara perlahan.
Sayangnya, banyak orang yang tetap bertahan dalam kondisi ini karena merasa “harus kuat” dan berpikir bahwa menjaga hubungan adalah bentuk kedewasaan, padahal yang terjadi adalah bentuk penghindaran emosional. Ketika seseorang berkata, “Aku yakin dia tetap sayang,” itu bukan kekuatan, melainkan ketakutan: takut kehilangan, takut ditolak, atau takut harus membuat keputusan yang menyakitkan.
- Kamu sering membela pasangan di depan orang lain meski dalam hati tidak setuju.
- Kamu mengabaikan perasaan sendiri demi menjaga suasana tetap “adem.”
- Kamu merasa tidak bahagia, tapi takut menyuarakannya karena khawatir akan menimbulkan pertengkaran di dalam hubungan.
- Kamu merasa bersalah hanya karena merasa curiga.
- Kamu sering mencari-cari alasan untuk membela pasangan, padahal alasannya tidak masuk akal.
Cinta memang butuh kepercayaan, tapi bukan berarti kita harus mengabaikan kenyataan. Jangan sampai “berpikir positif” justru membuat kita menyambut luka dengan senyuman palsu. Karena menjaga hubungan bukan berarti mengorbankan logika dan perasaan. Dan mencintai bukan alasan untuk menolak kenyataan.
Tulisan ini telah diterbitkan di media Terkini News pada tanggal 4 Juni 2025.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeletekadang ini penyebab utamanya
ReplyDelete