![]() |
| (dokumentasi pribadi) |
KLIK INFO - Sorak-sorai penonton terdengar riuh di GOR Otista, Jakarta Timur, Sabtu (14/6/2025). Lapangan basket penuh dengan semangat muda ketika puluhan tim anak-anak hingga remaja berlaga di ajang CGR Children Championship (3C) Internasional 2025. Turnamen ini berlangsung dari 14 Juni hingga 29 Juni dengan menghadirkan sesuatu yang baru: partisipasi tim dari Malaysia dan Filipina. Ajang yang sudah memasuki edisi ketujuh ini menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya berstatus internasional. Tidak hanya menjadi tempat adu skill, kompetisi ini juga menjadi ruang pembinaan mental, kedisiplinan, hingga persahabatan lintas negara.
Sejak pagi, tribun penonton sudah dipadati keluarga peserta dan pendukung tim. Teriakan “defense!” dan “good job!” kerap terdengar di sela-sela pertandingan. Di sisi lain, anak-anak yang belum bermain tampak berbaris rapi bersama pelatih sambil melakukan pemanasan. Keringat, senyum, dan tangis kecewa bercampur menjadi satu atmosfer khas turnamen usia dini. “Deg-degan, tapi senang bisa main lawan tim dari Filipina,” kata Symphony Janna, salah satu pemain muda, sembari mengelap keringat di pinggir lapangan.
Total ada 45 tim yang berpartisipasi dalam 3C 2025. Mereka terbagi dalam kategori KU-10 campuran, KU-12, KU-14, KU-16, hingga KU-18 putra dan putri. Kehadiran tim internasional dari Malaysia dan Filipina menjadi tantangan baru sekaligus motivasi bagi para pemain muda Indonesia. “Kalau hanya latihan, anak-anak tidak akan berkembang maksimal. Dengan bertanding melawan tim luar negeri, mereka belajar mengukur kemampuan diri sekaligus menambah pengalaman,” jelas Disyon Toba, Ketua Panitia 3C 2025.
Salah satu momen yang paling ditunggu adalah debut tim Filipina di babak pembuka. Gaya bermain cepat dan penuh teknik dari negeri basket itu langsung memancing decak kagum penonton. Pelatih mereka, Norman Gomez, menyampaikan apresiasi besar terhadap ajang ini. “Turnamen seperti ini sangat penting untuk pembinaan anak usia dini. Semoga tahun depan lebih banyak tim internasional yang ikut serta,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan tim Malaysia menekankan bahwa ajang ini bukan hanya soal kompetisi, tapi juga mempererat persahabatan. “Anak-anak bisa belajar budaya baru, sekaligus membangun mental sportivitas,” kata salah satu official.
Turnamen 3C tidak hanya soal basket. Panitia juga menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memberikan edukasi pentingnya menjauhi narkoba. Melalui pendekatan olahraga, anak-anak diarahkan agar tumbuh sehat dan terhindar dari dampak negatif penggunaan gawai berlebihan maupun penyalahgunaan obat terlarang. Para orang tua menyambut baik hal ini. Dr. Kartika Mayasari, salah satu orang tua peserta, menilai ajang internasional seperti 3C dapat meningkatkan rasa percaya diri anak. “Selain mengasah kemampuan, mereka bisa belajar bersosialisasi lintas negara, itu nilai tambah yang luar biasa,” katanya.
Meski ada skor, juara, dan piala, suasana keakraban tetap terasa kental. Banyak peserta yang saling bertukar pin atau kaos tim setelah pertandingan, sebagai simbol persahabatan. Beberapa bahkan berfoto bersama meski baru pertama kali bertemu. Bagi panitia, hal inilah yang menjadi esensi utama 3C. “Kami ingin turnamen ini tidak hanya melahirkan atlet, tapi juga karakter tangguh, sportif, dan terbuka dengan dunia luar,” tutur Disyon Toba.
Dengan suksesnya penyelenggaraan tahun ini, panitia berharap dukungan lebih besar datang dari sponsor, pemerintah daerah, maupun federasi basket nasional. Targetnya, 3C bisa menjadi turnamen tahunan berskala Asia Tenggara dengan peserta dari lebih banyak negara. “Ini baru langkah awal. Ke depan, kami ingin 3C menjadi agenda tetap pembinaan basket usia dini, sekaligus memperkuat hubungan antarnegara melalui olahraga,” tambah Disyon.
CGR Children Championship 2025 membuktikan bahwa pembinaan olahraga bisa dilakukan sejak dini dengan cara menyenangkan. Dari lapangan sederhana di GOR Otista, lahirlah kisah anak-anak yang berani bermimpi besar, belajar bersaing sehat, sekaligus menjalin persahabatan lintas bangsa. Turnamen ini bukan sekadar soal siapa yang menang, melainkan tentang perjalanan menuju kedewasaan dalam olahraga dan kehidupan.


keren banget!!!!
ReplyDeletewahhhhh keren kerenn
ReplyDelete