Sunyi di Ujung Penjelasan, Budi Pekerti Terlupakan

 
(google.com/tempo.co)

KLIK INFO - Pesan terakhir itu telah dikirim. Panjang, jelas, dan penuh penekanan. Seorang dosen menutup penjelasannya di grup WhatsApp kelas dengan harapan akan ada satu atau dua kalimat terima kasih, atau pertanyaan sebagai bentuk adanya keterlibatan dan interaksi mahasiswa. Tapi yang muncul hanya keheningan. Hanya satu dari 27 mahasiswa yang menanggapi. Grup kelas didominasi oleh kesunyian. Tidak ada tanggapan.


Situasi ini bukan sekadar soal etika digital atau tata krama dalam ruang komunikasi daring. Ini tentang nilai-nilai dasar yang perlahan memudar di lingkungan akademik nilai yang dulu dianggap mutlak bagi seorang pelajar kini memudar. Dosen bukan hanya menyampaikan informasi, tapi juga sedang menanamkan semangat belajar. Namun ketika tak ada yang merespons, kekecewaan itu muncul.


“Saya sudah memberikan penjelasan dengan detail di grup. Namun dari 27 siswa hanya satu yang menanggapi, dan berterima kasih,” ucap dosen. Dalam nada bicaranya, marah, kecewa, dan letih bercampur menjadi satu. Letih yang tidak berasal dari kehabisan energi, melainkan dari kehilangan rasa dihargai oleh mahasiswa sendiri.


Grup WhatsApp merupakan media komunikasi untuk saling berdiskusi, bertanya, dan memberikan tanggapan bagi dosen dan mahasiswa. “Semua mahasiswa membaca pesan saya, namun tidak semuanya merespons bahkan hanya untuk mengucapkan terima kasih,” ujarnya. 


Setiap penjelasan yang diketik, adalah bentuk kepedulian seorang dosen kepada mahasiswanya, agar dapat memahami setiap perintah dan tugas yang diberikan. Hal ini merupakan wujud budi pekerti dari seorang pendidik kepada peserta didik.


Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tidak sedikit mahasiswa yang membaca tanpa merasa perlu menanggapi. Mereka menganggap diam sebagai hal yang lumrah, padahal dalam diam itu tersembunyi sikap yang tidak mengindahkan rasa hormat dan empati. Padahal, ucapan terima kasih bukan hanya sekadar formalitas. Ia adalah ekspresi penghargaan atas usaha orang lain.


“Di mana letak etika dan budi pekerti kalian?” tanya dosen itu. Mahasiswa hanya bisa terdiam dan termenung mendengarkan kekecewaan yang dialami oleh dosen. Karena apa yang dosen itu katakan adalah benar, bahwa mahasiswa kurang peduli dan tidak peka terhadap situasi yang terjadi. Kurangnya rasa terima kasih membuat mahasiswa menjadi pribadi yang acuh dan tidak peduli satu sama lain.


Teknologi telah memudahkan kita untuk belajar, tetapi juga membuat kita lupa bagaimana cara menghargai. Informasi semakin cepat, tapi etika semakin hilang. Kita harus menghidupkan nilai-nilai budi pekerti dengan sesederhana merespons pesan dosen, dan mengucapkan terima kasih. Karena pendidikan yang baik bukan hanya membentuk mahasiswa yang cerdas, tapi juga hati yang tahu cara menghargai.



Comments

  1. kita harus menghargai orang lain jika ingin dihargi oleh orang lain juga

    ReplyDelete

Post a Comment