![]() |
| (dokumentasi pribadi) |
KLIK INFO - Siang itu udara cukup panas. Matahari terasa menyengat meski kaca mobil sudah tertutup rapat. Aku duduk di bangku belakang sambil memainkan ponsel, sesekali melirik keluar jendela. Papa yang mengemudi terlihat tenang seperti biasa, memegang setir sambil memperhatikan jalan.
Mobil kami berhenti karena ada kendaraan lain di depan. Dari kaca depan, aku melihat mobil putih yang ada tepat di depan kami tiba-tiba menyalakan lampu mundur. Awalnya aku mengira sopirnya hanya ingin menggeser sedikit posisinya agar lebih pas parkir. Tapi mobil itu terus mundur, tanpa memberi tanda apa-apa.
“Eh…” aku sempat bersuara kecil, dan belum sempat memperingatkan, suara bruk terdengar. Mobil itu menabrak bagian depan mobil kami. Tubuhku ikut sedikit terdorong.
Papa menarik napas, tapi tetap diam. Aku refleks membuka pintu dan keluar untuk melihat kondisi mobil. Udara panas langsung terasa, dan beberapa orang di pinggir jalan sempat menoleh penasaran.
Aku berjalan ke depan mobil. Ternyata bemper kami ada baret cukup jelas, dan plat nomor copot dari dudukannya. Tidak sampai penyok, tapi jelas terlihat bekas benturan. Aku jongkok sebentar, lalu berdiri lagi sambil menahan rasa kesal.
Tak lama, sopir mobil putih itu buru-buru keluar. Wajahnya terlihat panik. “Mas, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sadar ada mobil di belakang. Semua kerusakan saya tanggung, biar saya yang bayar,” katanya cepat.
Aku menatapnya sambil mengangguk. “Iya, Mas. Untung tidak lebih parah, tapi ini jelas ada baret dan platnya copot.”
Papa turun juga, berdiri di sampingku. Beliau hanya melihat sekilas bagian depan mobil, lalu menoleh pada sopir itu. Dengan suara datar Papa berkata, “Baik, yang penting ada tanggung jawabnya.” Setelah itu beliau kembali memberi isyarat agar aku yang melanjutkan bicara.
Sopir mobil putih itu mengulang lagi permintaan maafnya. Ia tampak benar-benar menyesal. Aku lalu mengambil plat nomor yang terlepas, menaruhnya di kursi depan, dan kembali duduk di bangku belakang. Papa pun masuk lagi ke mobil.
Suasana di dalam mobil sempat hening. AC masih menyala, tapi udara seakan lebih berat dari sebelumnya. Aku memandangi keluar jendela, melihat orang-orang yang tadi sempat memperhatikan kini kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Mobil kami memang masih bisa berjalan normal, tapi bekas baret dan plat copot itu jadi tanda kecil bahwa siang itu tidak berjalan mulus seperti biasa. Hanya butuh satu momen singkat untuk mengubah suasana yang tadinya tenang menjadi sedikit merepotkan.
Namun, setidaknya aku lega. Sopir yang menabrak mau bertanggung jawab. Itu sudah cukup untuk menutup kejadian sejenak yang mengagetkan hari itu.

at least tidak kabur
ReplyDelete