Pelangi di Ujung Tahun

(dokumentasi pribadi)


KLIK INFO - Liburan akhir tahun kali ini terasa berbeda. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, kami sekeluarga benar-benar meluangkan waktu bersama tanpa terganggu pekerjaan, tanpa notifikasi ponsel, tanpa agenda yang padat. Hanya kami, langit yang luas, dan hijaunya pegunungan di Hejo Sentul.

Kami tiba sehari setelah Natal, membawa serta sisa-sisa kehangatan dari rumah. Penginapan kami sederhana tapi nyaman, berdiri di lereng bukit yang menghadap langsung ke lembah hijau. Dari balkon belakang, kami bisa melihat kabut pagi naik pelan-pelan, seperti uap dari secangkir teh yang baru diseduh.

Hari-hari kami diisi dengan jalan kaki menyusuri hutan, tertawa di atas jembatan bambu, dan menikmati makan malam sederhana ditemani suara serangga malam. Tak ada yang istimewa jika dilihat dari luar, tapi di dalam hati, aku merasa damai. Mungkin itulah yang paling kami butuhkan, waktu untuk tidak terburu-buru.

Lalu datanglah hari itu, 27 Desember. Sore hari, langit mendung mulai menipis setelah hujan sebentar. Aku duduk di tangga kayu depan kamar, memandangi pohon-pohon yang bergoyang pelan. Angin membawa bau tanah yang basah dan segar. Suasana begitu tenang, sampai Ibu memanggil dari balkon atas.

“Cepat ke atas! Lihat langit!”

Aku berlari. Dan di sana, tepat di atas bukit yang selama ini menemani pagi-pagi kami, terbentang sebuah pelangi. Lengkap, melengkung sempurna, seakan menjembatani satu sisi lembah ke sisi lainnya. Warnanya tajam: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, semuanya ada.

Tapi kemudian, saat kami semua berdiri terpaku, sebuah pelangi kedua mulai tampak. Lebih tinggi, lebih samar, tapi jelas terlihat. Pelangi ganda. Double rainbow. Aku pernah membaca tentang itu, tapi belum pernah benar-benar melihatnya.

Tak satu pun dari kami bicara. Bahkan adikku yang biasanya ribut, hanya berdiri di sampingku sambil mendongak. Kami tahu, ini bukan pemandangan yang bisa diulang kapan saja. Ini semacam keajaiban kecil, seolah langit memberi kami hadiah sebelum tahun berganti.

Ayah mengambil foto, Ibu tersenyum sambil merangkul kami, dan aku hanya berdiri di sana, membiarkan momen itu meresap pelan-pelan ke dalam ingatan. Dua pelangi di langit, di akhir tahun yang melelahkan, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Malam itu, kami duduk bersama di ruang makan kecil, mengobrol tentang banyak hal. Tidak ada topik besar, tidak ada rencana muluk. Hanya cerita kecil tentang masa kecil, makanan favorit, dan harapan sederhana untuk tahun depan.

Dan aku sadar, kadang-kadang, kebahagiaan tidak datang dari hal-hal yang luar biasa. Ia datang dari keheningan yang tenang, dari kebersamaan yang tulus, dari pelangi yang muncul tiba-tiba di sore hari… dan dari keluarga yang ada di sisimu saat itu terjadi.


Comments

Post a Comment