![]() |
| (google.com/greatness.com) |
KLIK INFO - “Kalau bisa bantu, kenapa nggak?” Begitulah prinsip hidup Dika, temanku sejak kuliah. Ia tipe orang yang jarang marah, selalu senyum, dan percaya semua orang pasti punya niat baik. Bagi Dika, hidup akan lebih mudah kalau kita melihat segalanya secara positif.
Dika tidak pernah bisa berkata “tidak.” Ia meminjamkan uang meski tahu mungkin tidak kembali. Ia menerima tanggung jawab yang bukan bagiannya, dan ia selalu menganggap bahwa setiap orang pasti punya niat baik.
Namun, dunia tidak selalu membalas kebaikan dengan kejujuran. Orang-orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya. Ia dijadikan tumpuan dalam kerja kelompok, dimintai bantuan secara sepihak, dan seringkali dilupakan ketika ia sendiri butuh bantuan.
Optimisme dan Bahayanya yang Tak Terlihat
Optimisme punya dampak positif yang besar. Dalam studi Harvard T.H. Chan School of Public Health tahun 2019, disebutkan bahwa orang yang optimis memiliki peluang hidup lebih lama hingga 15% dibanding mereka yang pesimis. Mereka juga cenderung lebih sehat secara mental dan fisik.
Namun, jika optimisme tidak diiringi batas yang sehat, ia bisa menjadi senjata makan tuan. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity dorongan untuk selalu terlihat bahagia, selalu memaklumi, dan menolak emosi negatif. Menurut penelitian University of Queensland (2019), toxic positivity justru memperburuk kesehatan mental karena individu menolak kenyataan dan merasa tidak boleh marah atau kecewa.
Dika adalah contoh nyata. Suatu kali ia menanggung pekerjaan rekan satu tim yang kabur begitu saja. Di lain waktu, uang pinjamannya tidak dikembalikan. Dan seperti biasa, Dika hanya tersenyum, “Nggak apa-apa, mungkin mereka lagi butuh banget.”
Lambat laun, ia merasa lelah. Bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional. Ia mulai mempertanyakan: Apakah aku salah karena terlalu baik?
Budaya “Nggak Enakan” dan Eksploitasi Sosial
Fenomena seperti ini juga didorong oleh budaya “nggak enakan” yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Kita sering diajarkan untuk sabar, patuh, dan mengalah demi menjaga harmoni sosial.
Namun, dalam praktiknya, banyak orang yang akhirnya memendam perasaan karena takut menyakiti orang lain. Dalam survei Katadata Insight Center (2023), 63% anak muda Indonesia mengaku pernah setuju melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan hanya karena “tidak enak” menolak.
Hal ini juga sejalan dengan data Komnas Perempuan (2022), yang menyebutkan bahwa banyak korban kekerasan tidak melapor karena takut dianggap memalukan atau tidak menghargai keluarga. Maka dari itu, budaya toleransi yang tidak sehat bisa menjelma jadi eksploitasi emosional.
Kebaikan Harus Ada Batasannya
Menjadi orang baik bukan berarti harus selalu mengiyakan permintaan orang lain. Dalam ilmu psikologi, dikenal konsep personal boundaries atau batas pribadi. Ini adalah cara seseorang menjaga ruang dirinya, baik secara emosional maupun fisik.
Psikolog Dr. Susan Newman mengatakan, “People who always say yes end up overwhelmed, burned out, and often feel unappreciated,” yang artinya orang yang terlalu sering berkata “iya” akan berakhir lelah, tidak dihargai, dan kehilangan kendali atas hidupnya.
Dika dulu mengira menolak akan membuatnya jadi “teman yang buruk.” Tapi kini ia mulai menyadari, bahwa dirinya pun punya hak untuk berkata tidak. Ia belajar membatasi waktunya, menghindari orang yang hanya datang saat butuh, dan menjaga tenaganya untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Kebaikanmu Disalahgunakan? Perhatikan 5 Tanda Ini
- Kamu sering merasa lelah atau terbebani setelah membantu orang lain.
- Orang hanya datang padamu saat mereka butuh sesuatu.
- Kamu merasa bersalah jika menolak.
- Hubungan terasa satu arah, kamu yang memberi, mereka yang menerima.
- Kamu merasa terjebak tapi tidak tahu bagaimana menolak.
Kebaikanmu Berharga, Ini Cara Menjaganya
1. Belajar mengatakan “tidak” dengan sopan
“Maaf, aku nggak bisa bantu kali ini.” Itu bukan bentuk egois, tapi perlindungan diri.
2. Tetapkan batasan waktu dan tenaga
Jangan ragu membatasi bantuan hanya sampai kapasitasmu.
3. Evaluasi relasi sosialmu
Apakah hubungan itu saling memberi, atau hanya kamu yang selalu mengalah?
4. Jaga empati terhadap diri sendiri
Jangan cuma memikirkan orang lain, diri kamu sendiri juga penting.
5. Hargai perasaanmu
Kalau kamu merasa lelah, kecewa, atau kesal, itu valid. Jangan tekan emosi.
Jadi Baik Tanpa Kehilangan Diri
Dunia memang butuh lebih banyak orang baik, dan yang selalu berpikir positif seperti Dika. Tapi menjadi baik tidak berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti. Optimisme harus diimbangi dengan kesadaran dan keberanian untuk menjaga diri sendiri.
Kebaikan itu seperti cahaya, indah jika tak menyilaukan. Dan seperti lampu, kamu pun butuh energi untuk tetap menyala. Maka, jangan biarkan orang lain mengambil semua tenagamu tanpa memberikanmu cahaya untuk kembali bersinar.
Dika kini masih menjadi orang yang selalu berpikir positif dan berhati mulia, tapi ia lebih bijak. Ia tahu kapan harus membantu, dan kapan waktunya berkata “tidak.” Karena ia sadar, menjaga diri juga bagian dari menjadi manusia yang sehat dan tetap peduli. Bukan hanya peduli kepada orang lain, tapi juga peduli kepada diri sendiri.

jadi orang gaenakan tuh susah banget, selalu merasa bersalah
ReplyDeleteni yangbikin jadi toxic
ReplyDelete