Ketika Kepala Penuh, tapi Mata Terjaga

 
(pexels/cottonbro studio)



KLIK INFO - Jam dinding menunjukkan pukul 02.13. Lampu kamar sudah padam sejak dua jam lalu, ponsel sudah diletakkan jauh dari tempat tidur. Tapi tetap saja, mataku terbuka. Bukan karena tidak lelah, justru sebaliknya. Tapi entah mengapa, pikiranku masih bekerja seperti ada deadline besar yang menunggu, padahal tidak ada apa-apa besok. Atau mungkin justru terlalu banyak yang mengganggu.

Malam seperti ini sudah sering terjadi. Aku diam, menatap plafon atau menutup mata dengan paksa, berharap kantuk segera datang. Tapi ia tak kunjung tiba. Kadang malah muncul adegan-adegan yang aneh dalam pikiran: percakapan yang tidak pernah terjadi, kegagalan yang belum tuntas, atau kalimat kasar yang pernah diucapkan orang dan masih tersimpan di kepala. Di siang hari, semua itu seperti tak penting. Tapi di malam hari, semuanya datang silih berganti.

Beberapa orang mungkin akan menyebut ini insomnia. Tapi bagiku, ini lebih dari sekadar susah tidur. Ini adalah kegagalan kecil yang terasa besar, kegagalan untuk memberi waktu istirahat pada tubuh dan pikiran yang sudah bekerja seharian. Kegagalan untuk mematikan semuanya sejenak.

Seseorang pernah bilang padaku, “Kalau kamu capek, tidur aja,” ucap seseorang. Kalimat itu sederhana dan logis. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Banyak orang bisa rebahan dan langsung tertidur, sementara sebagian lainnya justru makin terjaga ketika semua lampu dipadamkan. Dan sayangnya, aku termasuk yang kedua.

Aku tidak ingin menyalahkan tugas kampus, lingkungan, atau sosial media. Tapi sejak mulai kuliah, jam tidurku mulai kacau. Awalnya hanya satu dua kali, lalu jadi terbiasa tidur lewat tengah malam. Semakin ke sini, tubuhku tidak tahu lagi mana waktu istirahat. Bahkan saat hari kosong pun, aku tetap terjaga.

Data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 mencatat, gangguan tidur dialami oleh hampir 30% orang dewasa muda di Indonesia. Sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa tidak tidur nyenyak selama berhari-hari akan memengaruhi emosi, fokus, bahkan keputusan sehari-hari. Dan aku mulai merasakannya: mudah marah tanpa sebab, sulit konsentrasi di kelas, dan merasa tidak produktif meski sudah duduk berjam-jam.

Yang paling membuat frustasi adalah ketika rasa lelah dan kantuk muncul di pagi hari, tepat ketika aku harus beraktivitas. Kadang aku tidur pukul 3 pagi, bangun pukul 7, dan harus pura-pura segar di depan orang lain. Tak jarang juga aku tertidur di transportasi umum, hanya untuk ‘membayar utang tidur’ yang tidak pernah lunas.

Lalu, muncul rasa bersalah. Seharusnya aku bisa lebih disiplin. Seharusnya aku tidur lebih awal. Seharusnya aku tak membuka pikiran pada semua hal yang tak perlu. Tapi itulah yang membuat insomnia terasa seperti kegagalan paling personal, karena yang disalahkan akhirnya adalah diri sendiri.

Beberapa waktu lalu, aku mulai menulis jurnal malam. Bukan untuk dibaca orang, hanya untuk membuang isi kepala yang terlalu penuh. Kadang aku menuliskan keluhan, kadang ketakutan, kadang hanya satu kalimat “Hari ini aku lelah,” ucapku dalam hati. Dan dari situ, aku mulai merasa lebih tenang. Tidak selalu langsung tidur, tapi setidaknya tidak lagi bergumul sendirian.

Pelan-pelan aku juga mulai berdamai dengan malam. Aku tak lagi memaksa tidur, tapi mencoba mengenali kenapa pikiranku begitu aktif. Mungkin karena terlalu banyak menahan selama siang. Mungkin karena aku tak punya cukup ruang untuk memproses semuanya saat hari masih terang.

Sekarang aku tahu, tidur bukan hanya tentang memejamkan mata. Tidur adalah bentuk menghargai diri sendiri setelah aktivitas yang padat. Karena diri kita memiliki hak untuk istirahat. Dan saat kita gagal memberikan diri kita waktu untuk istirahat, bisa jadi karena kita belum siap untuk menyerahkan semuanya sejenak. Gagal tidur artinya ada sesuatu yang belum sepenuhnya terselesaikan, bukan dengan orang lain, tapi dengan diri kita sendiri.

Tidak banyak orang membicarakan insomnia sebagai bentuk kegagalan. Padahal, bagi mereka yang mengalaminya, ini adalah pertarungan senyap setiap malam. Tubuh lelah, tapi kepala sibuk. Mata berat, tapi hati belum damai.

Dan aku menulis ini bukan karena aku sudah sepenuhnya pulih. Itu bagian dari proses mengenali diri sendiri. Mungkin bukan malam ini, mungkin bukan besok.

Tapi aku percaya, akan tiba waktu di mana tidur menjadi hak yang tak utuh kembali, bukan kemewahan, bukan perjuangan, tapi kebutuhan yang benar-benar bisa kuterima tanpa tekanan.


Tulisan ini telah diterbitkan di media Netral News pada tanggal 2 Juni 2025.

Comments

Post a Comment