![]() |
| Dokumentasi Pribadi |
KLIK INFO - Siang itu, sekitar pukul 13.00. Matahari sedang panas-panasnya, dan aku baru saja keluar dari kelas terakhir di hari ini. Tugas menumpuk, pikiran penuh, tapi yang ingin langsung kulakukan cepat pulang agar bisa beristirahat. Begitu keluar dari arah parkiran kampus, aku melewati polisi tidur yang seperti biasa selalu kulewati. Tapi kali ini berbeda, ban belakang motorku terasa oleng, lajunya berat, dan ada suara gesekan yang tak biasa.
Kutepi motorku di trotoar dalam kampus, dan betul saja, ban belakang bocor.
Yang membuatku heran, aku tidak merasa menabrak apapun. Dan baru saat itu aku sadar, sudah beberapa hari ini tekanan angin di ban belakang memang terasa kurang, tapi aku tak pernah benar-benar memperhatikannya. Kupikir motorku baik-baik saja. Tidak ada yang mengingatkan, bahkan ayahku yang biasanya sangat teliti soal perawatan motor pun tidak menyuruhku mengecek tekanan ban. Dan karena aku terlalu percaya bahwa semua normal, aku pun ikut lengah.
Aku berdiri di bawah panas terik sambil kebingungan, sampai beberapa teman yang kebetulan juga baru keluar dari kampus menghampiri. Tanpa diminta, dua dari mereka langsung membantuku untu menuju ke bengkel terdekat yang jaraknya sekitar 600 meter. Aku cukup menyesali kebiasaanku mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya penting.
Sesampainya di bengkel, seorang tukang tambal ban yang memeriksa kondisi ban motorku. Ia memeriksa dari berbagai sudut dan bagian dalam ban, lalu berkata sambil menggelengkan kepala,
“Ini bukan karena kena paku. Ban kamu tipis, anginnya juga kurang. Jadi pas kena polisi tidur, langsung pecah dari dalam,” ucapnya.
Aku mengangguk pelan. Penjelasannya sederhana, tapi cukup menampar. Ia lalu menambahkan,
“Banyak orang lupa isi angin ban. Padahal kalau dibiarkan lama, karetnya bisa rusak. Ban terlihat utuh, tapi sebenarnya melemah pelan-pelan,” lanjutnya.
Dari pernyataan itu, aku belajar sesuatu yang sangat nyata: kegagalan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, ia muncul dari hal kecil yang terus diabaikan. Kegagalan bukan hanya soal tidak berhasil mencapai sesuatu, tapi juga soal tidak menjaga apa yang sudah dimiliki. Kadang, ia muncul dari hal kecil yang terus diabaikan. Sama seperti ban ini. Ia tidak rusak karena satu benturan besar, tapi karena aku terlalu lama menganggapnya “masih kuat”.
Menurut tukang bengkel itu kasus seperti ini sering terjadi. Ia bilang, “Banyak mahasiswa datang ke sini bukan karena tertusuk paku, tapi karena tekanan angin kurang. Apalagi kalau sering boncengan, atau motor dipakai tiap hari,” ucapnya. Aku hanya bisa tersenyum tipis, karena semua itu cocok dengan kondisiku.
Sambil menunggu ban ditambal dan diisi ulang, aku duduk diam. Refleksi sederhana mulai muncul di kepala. Kegagalan merawat motor pribadi bukan cuma soal lupa isi angin. Tapi soal lalai memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya bisa dicegah. Aku terlalu percaya bahwa semuanya baik-baik saja, padahal tak pernah benar-benar aku periksa.
Hari itu, aku merasa gagal. Tapi bukan gagal sebagai pengendara, melainkan sebagai pemilik motor yang tidak merawatnya dengan benar. Motor itu sudah menemaniku berbulan-bulan ke kampus, melewati hujan, kemacetan, dan jalan rusak. Tapi aku bahkan lupa memberinya perhatian sekecil cek tekanan angin. Aku sibuk, iya. Tapi aku juga abai. Dan dari situ aku belajar, kegagalan bukan hanya soal tidak berhasil mencapai sesuatu, tapi juga soal tidak menjaga apa yang sudah dimiliki.
Mulai hari itu, aku punya kebiasaan baru cek tekanan ban seminggu sekali. Mungkin terdengar remeh. Tapi dari pengalaman sederhana itu, aku tahu hal kecil yang dirawat dengan konsisten bisa mencegah kegagalan besar. Dan lebih dari itu, aku belajar bahwa istilah ‘baik-baik saja’ sering kali hanya berlaku sampai sesuatu akhirnya pecah di tengah jalan.
Tulisan ini telah diterbitkan di media Netral News pada tanggal 2 Juni 2025.

hihihi
ReplyDelete