Kebahagiaan Sederhana Bernama Moru

(dokumentasi pribadi)


KLIK INFO - Pagi itu, udara Jakarta terasa pengap. Aku melirik Moru, anjing kesayanganku, yang sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu. Ekornya bergoyang tak berhenti, seolah ia sudah tahu bahwa hari ini akan berbeda.

“Siap jalan-jalan, Moru?” tanyaku sambil mengangkat leash berwarna biru.

Moru langsung melompat kegirangan, menggonggong kecil dengan mata berbinar. Aku tertawa, lalu segera memasukkannya ke dalam mobil. Perjalanan menuju Sentul memakan waktu sekitar satu jam, tapi Moru duduk manis di kursi belakang. Sesekali ia menempelkan hidungnya ke kaca jendela, menikmati hembusan angin dan aroma pepohonan yang mulai terasa begitu kami meninggalkan Jakarta.

Setibanya di Sentul, kami menuju sebuah lapangan rumput luas yang dikelilingi bukit kecil. Udara segar, langit biru, dan pemandangan hijau membuatku merasa seolah berada jauh dari hiruk pikuk kota. Begitu leash kulepas, Moru langsung berlari seakan punya sayap. Ia berputar-putar di rumput, menggulingkan badannya, lalu menoleh padaku dengan ekspresi penuh kebahagiaan.

Aku melempar bola kecil ke arah lapangan, dan Moru langsung berlari mengejarnya dengan semangat. Bulunya yang lembut berkilau terkena sinar matahari. Ia kembali dengan bola di mulut, menjatuhkannya di kakiku, lalu menatapku penuh antusias, meminta permainan diulang lagi.

Tak lama kemudian, kami berjalan menyusuri jalan setapak menuju sungai kecil. Suara gemericik air terdengar menenangkan. Moru berhenti di tepi jembatan kayu, menundukkan kepala, mencium-cium air, lalu menjilat sedikit. Aku sempat memperingatkan, “Jangan basah-basahan ya, Mor.” Tapi tentu saja, peringatanku hanya angin lalu. Dalam hitungan detik, Moru sudah menceburkan diri ke sungai dangkal itu, membuat cipratan kecil ke segala arah.

Sore harinya, kami duduk santai di atas tikar piknik. Aku membuka bekal sederhana, sementara Moru berbaring di sampingku, tampak lelah tapi puas. Matanya perlahan terpejam, bulu-bulunya masih agak lembap karena sungai tadi. Melihat Moru tertidur pulas dengan senyum kecil di wajahnya, aku tersenyum sendiri.

Hari itu, Sentul bukan hanya sekadar tempat pelarian dari padatnya kota. Ia menjadi ruang sederhana di mana aku dan Moru berbagi kebahagiaan.

Comments

Post a Comment