![]() |
| (google/ppdb-madrasahdki.com) |
KLIK INFO - Juni 2020, layar laptop menampilkan hasil yang tak ingin kulihat: namaku tidak tertera di daftar siswa yang diterima di SMA impian.
Padahal nilai raporku tergolong tinggi, bahkan masuk lima besar di sekolah. Letak rumahku pun hanya dua kilometer dari sekolah tersebut. Tapi satu hal yang mengalahkanku yaitu umur.
Aku baru berusia 14 tahun saat lulus. Hal yang dulu jadi kebanggaan, kini justru jadi alasan penolakan. Sistem zonasi yang berlaku bukan hanya mempertimbangkan jarak rumah, tetapi juga usia.
Siswa dengan usia lebih tua lebih diutamakan. Itu aturan resmi. Tidak ada yang salah secara administratif. Tapi di balik data dan ketentuan itu, ada perasaan seorang anak yang merasa gagal bukan karena malas atau tak mampu, melainkan karena lahir “terlalu cepat”.
“Sesuai ketentuan dari Dinas Pendidikan, usia jadi pertimbangan jika pendaftar melebihi kuota,” jelas panitia PPDB saat ayahku bertanya.
Tak ada celah untuk kompromi. Tidak ada ruang bagi penjelasan. Yang ada hanyalah angka dan syarat. Aku duduk di ruang tamu malam itu, diam dan bingung. Ini bukan kegagalan yang bisa kutebus dengan belajar lebih keras.
Ini adalah kegagalan yang datang dari luar diriku, dan itu justru terasa lebih menyakitkan. Aku merasa usahaku selama ini tak berarti. Setiap malam belajar, ikut les, dan menjaga nilai semuanya seolah tak cukup karena umurku belum “matang” di mata sistem.
Kisahku ternyata tidak sendiri. Beberapa teman di grup kelas mengalami hal serupa. Ada yang menangis karena tidak bisa masuk sekolah negeri, ada pula yang akhirnya harus bersekolah jauh dari rumah.
Kami bukan gagal karena bodoh. Kami hanya kalah oleh sistem yang belum sepenuhnya memberi ruang bagi semua. Tapi dari kegagalan itu, aku mulai memahami sesuatu sekolah bukan segalanya.
Tempat belajar terbaik tidak selalu memiliki nama besar atau seragam yang membanggakan. Tempat belajar terbaik adalah tempat di mana semangat tidak padam, dan usaha tetap dihargai.
Aku akhirnya bersekolah di tempat yang sebelumnya tak pernah kupikirkan. Sekolah swasta kecil, sederhana, tapi hangat. Di sana aku menemukan guru yang peduli dan teman-teman yang menerima. Di sana pula aku mulai menyusun ulang mimpi, bukan berdasarkan nama sekolah, tapi berdasarkan tekadku sendiri.
Sistem zonasi usia ini tercantum dalam Permendikbud No. 1 Tahun 2021. Dalam praktiknya, aturan ini bertujuan untuk pemerataan akses pendidikan. Namun, di balik tujuan mulia itu, tidak bisa dipungkiri bahwa ada sisi kemanusiaan yang kerap terabaikan. Usia menjadi syarat, tapi tidak semua usia membawa semangat yang sama.
Ada yang lebih muda namun siap, ada yang lebih tua tapi sekadar ikut arus. Dalam dunia pendidikan yang seharusnya mengedepankan keadilan dan semangat belajar, mungkinkah kita perlu mempertimbangkan ulang makna “siap” bukan hanya dari tanggal lahir, tapi dari motivasi dan potensi?
Kini, aku tak lagi menganggap kegagalanku sebagai akhir. Justru dari kegagalan itu aku belajar lebih banyak tentang menerima kenyataan, tentang mencari alternatif, dan yang paling penting, tentang tidak menyerah meski jalan tak sesuai rencana.
Kegagalan bukan berarti aku tidak pantas, hanya saja belum saatnya. Dan mungkin, saat itu akan datang bukan karena aku di sekolah favorit, tapi karena aku tak berhenti melangkah meski jalanku berbeda.
Tulisan ini telah diterbitkan di media Strategi.id pada tanggal 2 Juni 2025.

gagal buka berarti kalah
ReplyDelete