![]() |
| (pexels/Keira Burton) |
Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar bukan hanya dari orang tua, dosen, atau atasan, tapi juga dari sesama teman. Padahal, tidak jarang yang mengucapkannya pun sedang merasa lelah, sesak, dan bingung. Fenomena ini marak dirasakan generasi Z, generasi yang paling melek teknologi, paling kritis terhadap ketidakadilan, sekaligus paling rentan terhadap tekanan mental.
Bagi Gen Z, berpikir positif sering terasa seperti tuntutan baru yang sulit dijalani. Bukan karena mereka tidak ingin bahagia, tetapi karena kenyataan di sekitar mereka semakin membingungkan. Jadi, apakah berpikir positif benar-benar bisa membantu, atau justru malah menambah beban?
Dalam teori psikologi positif yang dipopulerkan oleh Martin Seligman, berpikir positif adalah bagian dari strategi untuk membangun optimisme dan kebahagiaan. Namun, ketika hal ini diterapkan di tengah kehidupan Gen Z yang penuh tekanan, ketidakpastian, dan ekspektasi tinggi berpikir positif tidak selalu terasa sebagai pilihan yang menyenangkan.
Di sini terjadi ketidakseimbangan antara harapan sosial dan kenyataan psikologis yang dialami Gen Z. Mereka sering kali dituntut untuk terus aktif, berprestasi, berpikir kreatif, dan mampu bersaing dalam dunia yang serba cepat. Namun kenyataannya, Gen Z juga harus menghadapi tantangan mental yang tidak ringan. Banyak dari mereka yang merasa bingung soal arah hidup, kesulitan finansial, hingga dihantui rasa cemas karena membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial. Dalam situasi seperti itu, berpikir positif memang terdengar seperti solusi yang baik, tetapi menjadi sangat sulit dijalankan jika tidak diiringi dengan dukungan yang nyata dan pemahaman yang mendalam dari lingkungan sekitar
Namun di balik semua itu, Gen Z juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Menurut laporan Deloitte Global 2023, lebih dari 46% Gen Z di seluruh dunia mengatakan bahwa mereka merasa stres dan kecemasan setiap hari. Gen Z juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Mereka hidup di masa yang serba cepat, penuh tekanan sosial, dan ketidakpastian ekonomi. Banyak dari mereka tumbuh di tengah krisis global seperti pandemi COVID-19, inflasi, konflik geopolitik, hingga perubahan pola kerja. Tidak heran jika banyak studi menyebut Gen Z sebagai generasi yang paling rawan mengalami stres, kecemasan, dan krisis identitas.
Laporan dari American Psychological Association (2022) menunjukkan bahwa Gen Z lebih mungkin mengalami tekanan psikologis dibanding generasi sebelumnya, bahkan di usia yang masih sangat muda. Mereka merasakan tekanan dari sekolah, lingkungan keluarga, hingga media sosial, yang setiap hari membebani mereka dengan standar kesuksesan dan kebahagiaan yang tidak realistis. Di tengah semua itu, berpikir positif sering kali menjadi ajakan yang terdengar ideal, namun tidak selalu mudah dilakukan.
Dalam studi yang dilakukan oleh McKinsey & Company (2022), sebanyak 58% Gen Z mengaku merasa sangat tertekan oleh ekspektasi lingkungan sosial, termasuk dari keluarga, sekolah, dan tempat kerja. Masyarakat, termasuk lingkungan sekolah, keluarga, dan media sosial menuntut Gen Z untuk tetap berprestasi, kreatif, dan cepat tanggap terhadap perubahan. Banyak dari mereka merasa takut tertinggal, minder, atau tidak cukup baik.
Kondisi ini diperburuk oleh kehadiran media sosial yang memperkuat pembandingan sosial. Dalam dunia digital, kebahagiaan, pencapaian, dan kesuksesan orang lain tampil begitu sempurna, sehingga membuat siapa pun mudah merasa gagal. Maka, berpikir positif memang terdengar baik, tapi tidak semudah kelihatannya.
Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity sebuah kondisi ketika seseorang merasa harus selalu bahagia, selalu kuat, dan menutupi semua emosi negatif. Padahal, berpikir positif yang sehat bukanlah menolak kenyataan, melainkan menerima bahwa kesedihan, kekecewaan, dan kegagalan adalah bagian dari kehidupan.
Toxic positivity justru dapat memperburuk kondisi mental seseorang. Ketika individu dipaksa menolak emosi negatif, yang terjadi justru penumpukan tekanan batin. Hal ini bisa berdampak pada meningkatnya risiko stres kronis, gangguan kecemasan, bahkan depresi. Data WHO 2023 mencatat bahwa angka depresi pada usia 15–29 tahun meningkat 20% dalam lima tahun terakhir secara global, dengan tekanan sosial dan penyangkalan emosi sebagai penyebab utama.
- Membangun Pola Pikir Positif yang Sehat dan RealistisBerpikir positif tetap penting, namun harus dilakukan dengan cara yang sehat dan realistis. Bagi Gen Z, berpikir positif bukan berarti selalu bahagia atau tidak pernah sedih. Justru, berpikir positif berarti tetap memilih untuk bangkit dan melangkah, meski kenyataan tidak selalu menyenangkan.
Berpikir positif tetaplah relevan, bukan sebagai tuntutan sosial, melainkan sebagai keterampilan mental yang diperlukan untuk menghadapi dinamika kehidupan yang semakin kompleks. Bagi Generasi Z, berpikir positif tidak dapat dimaknai sebagai upaya menutupi luka dengan kepura-puraan bahagia, melainkan sebagai kesadaran untuk mengenali rasa sakit, menerima kenyataan, dan merawat diri secara emosional
Apabila masyarakat berharap Generasi Z mampu bersikap optimis dan tangguh, maka sudah sepatutnya lingkungan turut menciptakan ruang yang adil, jujur, dan suportif. Ekspektasi yang tinggi tanpa disertai dukungan yang memadai hanya akan melahirkan tekanan psikologis yang kontraproduktif.
Berpikir positif seharusnya tidak menjadi beban tambahan dalam kehidupan anak muda. Apabila hal itu masih terasa berat bagi mereka, maka yang perlu dievaluasi bukanlah pribadi mereka, melainkan cara dunia memperlakukan dan memahami keberadaan mereka.
Tulisan ini telah diterbitkan di media Netral News pada tanggal 4 Juni 2025.

betul
ReplyDelete