AI di Ruang Kelas: Antara Jalan Pintas dan Jalan Belajar

 
(URBE University)


KLIK INFO - Beberapa tahun lalu, mahasiswa harus menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, menyalin catatan, atau mengetik ulang makalah. Kini, cukup dengan beberapa klik di laptop, sebuah esai bisa tersusun rapi berkat bantuan artificial intelligence (AI). Teknologi ini masuk ke ruang kelas lebih cepat dari dugaan siapa pun, memunculkan rasa kagum sekaligus cemas.

Bagi mahasiswa, AI terasa seperti teman ajaib. Saat tugas menumpuk, ada yang memanfaatkan aplikasi AI untuk mencari referensi, membuat rangkuman, atau sekadar menyusun kerangka tulisan. “Kadang aku bingung harus mulai dari mana. Dengan AI, setidaknya aku punya gambaran,” ujar Lani, mahasiswi semester lima. Ia mengaku AI membantunya lebih percaya diri, meski tetap harus mengedit ulang hasilnya agar sesuai dengan gaya tulisannya sendiri.

Namun, tidak semua mahasiswa menggunakan AI dengan bijak. Ada juga yang langsung menyalin teks tanpa membaca, seolah-olah tugas hanyalah formalitas. “Rasanya gampang, tinggal copy paste,” kata seorang mahasiswa lain yang enggan disebutkan namanya. Tapi ketika diminta dosen menjelaskan isi makalahnya di kelas, ia kebingungan. AI yang semula dianggap penyelamat, berubah jadi bumerang.

Dari sisi dosen, AI menghadirkan tantangan baru. Dr. Rahmat, dosen komunikasi, mengaku sering menemukan tugas dengan pola kalimat yang terlalu sempurna, nyaris tanpa salah ketik. “Kalau dibaca, rasanya kaku sekali. Saya bisa tahu itu bukan tulisan mahasiswa,” ujarnya sambil tertawa kecil. Meski begitu, ia tidak serta-merta menolak AI. Menurutnya, AI bisa jadi alat bantu yang hebat bila digunakan dengan benar. “Mahasiswa tetap harus berpikir kritis. AI seharusnya dipakai untuk memperkaya, bukan menggantikan,” tambahnya.

Beberapa dosen bahkan mencoba memanfaatkan AI dalam proses belajar. Ada yang menggunakannya untuk membuat soal latihan tambahan, memberi contoh analisis, atau memicu diskusi di kelas. Dengan cara ini, AI tidak lagi menjadi musuh, melainkan rekan kerja yang membantu dosen dan mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran.

Di balik semua cerita itu, terselip dilema etika. Apakah menggunakan AI berarti curang? Apakah nilai yang diperoleh masih mencerminkan kemampuan mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di kampus. Satu hal yang jelas: teknologi ini tidak bisa dihindari, yang bisa dilakukan hanyalah membimbing penggunaannya agar tetap bermakna.

AI di ruang kelas bukan sekadar soal canggih atau tidak canggih, tetapi soal bagaimana manusia memanfaatkannya. Bagi mahasiswa, AI bisa menjadi jalan pintas yang menipu, atau jalan belajar yang memperkaya. Bagi dosen, AI bisa menjadi tantangan, sekaligus peluang untuk mengajar dengan cara baru. Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Nilai sejati pendidikan tetap terletak pada proses berpikir, berdiskusi, dan mencari makna. Mesin bisa menulis, tetapi hanya manusia yang bisa memahami.

Comments

Post a Comment